Portal Informasi
PPID KARAWANG
png-1.png
png-1.png
Kabupaten Karawang
PPID KARAWANG
PORTAL INFORMASI KAB KARAWANG

Jika tidak dapat menemukan Informasi yang diperlukan. Silahkan ajukan formulir permintaan informasi.

Bupati Karawang dr. Hj. Cellica Nurrachadiana Mengunjungi adinda M. Hasby bukan dari imunisasi difteri melainkan kerusakan sistem saraf otot yang biasa disebut GBS (Guillain Barre Syndrome) adalah gangguan dimana sistem kekebalan tubuh menyerang saraf

Terkait dengan informasi sepihak tanpa ada keterangan akurat yang sudah tersebar luas melalui media massa maupun media sosial tentang dugaan balita lumpuh pasca imunisasi difteri, maka dari itu pihak RSUD Karawang malaksanakan pers conference di Aula Rapat Gedung RSUD Karawang, Kamis, (1/3). Dihadiri Bupati Karawang dr. Hj. Cellica Nurrachadiana, Kepala Dinas Kesehatan Karawang dr. H. Yuska Yasin, Kepala BAPPEDA Karawang H. Eka Sanata, Direktur Utama RSUD dr. H. Asep, Camat Jayakerta Budiman, Kepala Puskesmas dr. Nur Endang.

Dalam pers conference tersebut, pihak RSUD Karawang menjelaskan bahwa kelumpuhan yang dialami adinda M. Hasby bukan dari imunisasi difteri melainkan kerusakan sistem saraf otot yang biasa disebut GBS (Guillain Barre Syndrome) adalah gangguan dimana sistem kekebalan tubuh menyerang saraf.

Selanjutnya pihak RSUD memaparkan kronologi terjadinya dugaan kelumpuhan terhadap balita bernama M. Hasby umur dua tahun enam bulan asal Kecamatan Jayakerta Kabupaten Karawang. Awalnya pada tanggal 15/02/2018 telah dilaksanakan penyuntikan ORI Difteri di Posyandu Durian 4 Desa Makmurjaya terhadap 56 anak termasuk M. Hasby setelah itu menurut orangtua, anaknya tersebut satu hari pasca penyuntikan mengalami demam selama tiga hari. 

Tanggal 18/02/18 demam sudah menurun, namun anaknya mengeluh lemah pada bagian kaki.
Tanggal 21/02/18 pukul 17.30 wib M. Hasby masuk RS. Proklamasi.
Tanggal 22/02/18 Puskesmas Jayakerta (mendapat informasi dari pihak Rumah Sakit Proklamasi) mendatangi dan melihat kondisi pasien. Bidan Desa memotivasi pihak keluarga pasien untuk mau dirujuk ke RSUD namun pihak keluarga pasien menolak dirujuk.
Pukul 21.00 wib atas permintaan keluarga, pasien M. Hasby dibawa pulang.
Tanggal 23/02/18 pihak Puskesmas (dokter & petugas gizi) melakukan kunjungan dengan hasil:
● Kondisi anak masih lemah, rewel, tidak mau makan.
● BB/TB 9.9kg/84,3 cm kesimpulan = GIZI KURANG.
●Melakukan informed conset ulang untuk dirujuk ke RSUD namun masih tetap menolak dengan alasan ketiadaan biaya hidup sehari hari selama orangtua pasien menungguinya. 
Tanggal 26/02/18 pukul 13.30 Puskesmas mendapat kunjungan dari Kapolsek Rengasdengklok untuk konfirmasi kronologis kejadian KIPI.
Tanggal 28/02/18 pihak Kecamatan Jayakerta (Camat, Sekcam & staf kesos) dan Puskesmas (dr. Nur Endang, bidan desa dan karnah juru imunisasi) memotivasi keluarga padien untuk dapat di rujuk ke RSUD. Kurang lebih pukul 10.00 pasien diantar menuju RSUD menggunakan kendaraan operasional puskesmas. Setelah dilakukan pemeriksaan di IGD RSUD, M. Hasby ditempatkan di ruang perawatan Rawamerta guna diberikan pemeriksaan intensif.

Pada kesempatan tersebut Bupati Karawang menyampaikan, "pihaknya akan berupaya semaksimal mungkin untuk membantu memberikan perawatan kepada M. Hasby agar dapat kembali sehat seperti sebelumnya. Bahkan hari ini juga M. Hasby akan langsung di rujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung guna mendapatkan perawatan lebih optimal." ujarnya.

Beliau juga menambahkan, "untuk seluruh biaya perawatan di RSHS akan di tanggung oleh Pemerintah Daerah Karawang melalui RSUD Karawang, termasuk transportasi dan kebutuhan serta sewa rumah singgah bagi penunggu pasien selama M. Hasby menjalani perawatan”. (@opa)
 

Share this post